RPP Sosiologi Kelas XI Semester 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama sekolah : SMA sejahtera

Mata Pelajaran : Sosiologi

Kelas/semester : X I / 2

Baca lebih lanjut

Iklan

Materi Sosiologi kelas XI

DEFERENSIASI SOSIAL

 

A. PENGERTIAN

Deferensiasi atau perbedaan sosial adalah pembedaan penduduk atau warga masyarakat ke dalam golongan-golongan atau kelompok-kelompok secara horisontal ( tidak bertingkat ). Perwujudannya adalah penggolongan penduduk atas dasar perbedaan-perbedaan dalam hal yang tidak menunjukkan tingkatan, antara lain ras, agama, jenis kelamin, profesi, klen dan suku bangsa.

Dalam pelapisan sosial warga masyarakat dibedakan di dalam berbagai lapisan (hierarki). Dalam diferensiasi, hierarki atau tingkatan sosial tidak ada. Hal itu berarti tidak ada perbedaan tingkatan ras, agama, jenis kelamin, profesi, klen dan suku bangsa.

Diferensiasi sosial menunjukkan adanya keanekaragaman dalam masyarakat. Suatu masyarakat yang di dalamnya terdiri atas berbagai unsur yang satu dengan yang lin menunjukkan perbedaan tidak bertingkat (horizontal) disebut masyarakat majemuk.

Yang menjadi tekanan dalam pengertian diferensiasi sosial adalah pengaruh adanya perbedaan terhadap hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing orang.
Baca lebih lanjut

CONTOH RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan                  : SMA N 1 Bae Kudus

Kelas                                                  : XI

Semester                                         : 1 (satu)

Program                                          : Ilmu Pengetahuan Sosial

Mata Pelajaran                            : Sosiologi
Baca lebih lanjut

Perubahan Sosial Budaya yang Ada di Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati, Kudus

Apabila dibandingkan antara zaman dulu dengan zaman sekarang, perbedaan budaya memang terlihat begitu jelas.Hal ini semakin terlihat nyata setelah saya melakukan pengamatan terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal saya, yakni di Desa Tanjungkarang Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Seperti halnya di daerah-daerah atau kota-kota lain, tentunya dalam kehidupan masyarakat di desa ini juga   mengalami suatu perubahan sosial budaya. Dari pengamatan yang saya lakukan,  saya menemukan beberapa perubahan social budaya yang terjadi di masyarakat desa ini. Perubahan social budaya yang terjadi pada masyarakat desa Tanjung Karang ini meliputi beberapa aspek, antara lain dari aspek tingkah laku, gaya hidup, dan sebagainya.   Perubahan sosial budaya yang paling tampak pada masyarakat di desa ini adalah perubahan social budaya dalam segi tingkah laku, dan hal ini lebih mengarah pada kemunduran, artinya tingkah laku masyarakat semakin mengalami penyimpangan.

Perubahan budaya yang saya lihat dari segi tingkah laku misalnya berupa suatu perubahan tata kelakuan masyarakat yang semakin lama semakin mengarah pada kebebasan, terutama tingkah laku pada remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Dari pengamatan yang saya lakukan terhadap para remaja tersebut, pada era seperti sekarang ini peraulan mereka semakin bebas. Pergaulan antara remaja laki-laki dan perempuan tersebut lebih mengarah pada suatu pergaulan yang seakan-akan tidak mempunyai rasa malu. ‘tidak mempunyai rasa malu’ ini dalam artian, mereka tidak peduli akan masyarakat lain  di sekitarnya, mereka acuh terhadap nilai-nilai kesopanan yang ada, dan mereka menganggap bahwa tidak ada batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Pergaulan yang saya maksud di sini adalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang menurut saya sudah kelewat batas. Dari yang sudah saya amati dalam masyarakat, contoh dari pergaulan tersebut antara lain :
Baca lebih lanjut

Agama & Solidaritas Perspektif Emile Durkheim

AGAMA DAN SOLIDARITAS

RITUAL BUKA LUWUR SUNAN KUDUS

            Pedahuluan : Pendekatan Emile Durkheim

Pada dasarnya segala tindakan manusia di dasarkan oleh adanya motivasi atau dorongan-dorongan tertentu. Motivasi tidak hanya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, namun juga berasal dari luar (ekstrinsik). Motivasi dari luar di pengaruhi oleh adanya pemikiran bahwa ada suatu zat yang memiliki kekuatan di luar batas kemampuan manusia. Motivasi dari luar (ekstrinsik) yang saya maksud di sini adalah adanya kepercayaan pada diri manusia tehadap keberadaan Tuhan, yang nantinya menimbulkan pengaruh-pengaruh spiritual yang berakibat pada pola perilaku individu maupun kelompok. Adanya pengaruh-pengaruh spiritual ini dapat menimbulkan dorongan-dorongan perilaku yang menghasilkan suatu bentuk ritual-ritual tertentu sebagai wujud dari kepercayaan masing-masing inividu maupun kelompok tersebut. Lahirnya ritual-ritual ini merupakan dorongan dari dalam diri manusia, yang dalam perkembangannya menjadi sebuah lembaga yang kemudian disebut dengan agama dan keyakinan.
Baca lebih lanjut

Struktur Masyarakat Jawa

Pada dasarnya, struktur masyarakat Jawa terbagi dalam 4 masa, antara lain yakni feodalisme, kolonialisme, kemerdekaan, dan kekinian. Masing-masing bagian memiliki karakteristik berbeda yang membahas mengenai system masyarakat yang ada di dalamnya. Dalam hal ini, pada tulisan ini saya akan membahas mengenai struktur masyarakat Jawa yang ada di desa tempat tinggal saya, yakni Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus.

Saya akan menganalisis masing-masing struktur masyarakat Jawa untuk kemudian akan saya gambarkan apakah struktur masyarakat tersebut masih ada sampai skarang atau sudah hilang, khususnya di desa Tanjungkarang Kabupaten Kudus.
Baca lebih lanjut

Analisis Abangan-Santri-Priyayi

Abangan, Santri Priyayi – Perspektif Clifford Geertz

Pada dasarnya, masyarakat merupakan sebuah system social dimana terdapat komponen-kompoen atau jaringan yang saling berpengaruh. Di dalamnya juga terdapat pranata social yang mengatur pola perilaku dan interaksi antar masyarakat. Ketika semua system berjalan secara seimbang, maka akan tercipta masyarakat yang tentram dan harmonis. Secara alami, dalam suatu system masyarakat terdapat pula stratifikasi social, yakni penggolongan masyarakat ke dalam kelas-kelas berdasarkan suatu criteria tertentu,sehingga dalam hal ini melalui adanya stratifkasi social seperti tersebut, akan menimbulkan tingkatan-tingkatan social dalam masyarakat.
Baca lebih lanjut

PEREMPUAN PEKERJA TAMAN PENITIPAN ANAK “SEKAR MELATI” DALAM PEESPEKTIF SOSIOLOGI GENDER

Gender dapat diartikan sebagi suatu bentuk konstruksi sosial dan cultural yang menggambarkan budaya atas perbedaan jenis kelamin. Bagaimanapun gender memang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin, akan tetapi tidak selalu berhubungan dengan fisik seperti yang banyak dijumpai di masyrarakat. Namun demikian, gender tidaklah bersifat universal, tetapi berbeda-beda dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain serta dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, masyarakat Jawa secara tradisi menganut konsep social gender yang patriarkis. Implikasi secara umum adalah wanita menjadi sub ordinat pria.
Baca lebih lanjut

RENDAHNYA UPAH PEKERJA PEREMPUAN (DALAM PERSPEKTIF FEMINISME MARXIS-SOSIALIS)

Pada dasarnya, semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Manakala kita melihat karakteristik dari masing-masing secara fisik, kita akan dengan mudah membedakannya. Perbedaan alami yang dikenal dengan perbedaan jenis kelamin sebenarnya hanyalah segala perbedaan biologis yang dibawa sejak lahir antara perempuan dan laki-laki.

Seandainya saja perbedaan itu tidak menjadikan ketidakadilan, tidak menjadikan pertentangan dan tidak ada penekanan dan penindasan satu di antara yang lain, mungkin tidaklah menjadi sebuah masalah. Pada kenyataannya, perbedaan itu telah merambat pada salah satu pihak merasa dan dianggap lebih tinggi derajatnya, lebih berkuasa dan lebih segalanya dari pihak lain. Hal inilah yang memunculkan adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan.

Ketidakadilan gender sekaligus menimbulkan ketimpangan gender pada perempuan. Dalam hal ini, wanita identik sebagai korban atas hal itu. Bias gender yang terjadi di masyarakt sebenarnya bukanlah peristiwa yang berlangsung seketika. Melainkan dengan mekanisasi sosialisasi yang sangat panjang dalam masyarakat global. Permasalahan ketimpangan gender ini bukan pula persoalan yang baru. Dan sayangnya bias gender di masyarakat tersebut keberadaannya telah menjadi nilai-nilai yang melekat kuat yang diyakini secara bersama.
Baca lebih lanjut