SERTIFIKASI GURU DALAM KAITANNYA DENGAN PROFESIONALITAS DAN MUTU PENDIDIKAN DIINDONESIA

Teori fungsional structural membahas tentang masyarakat atau struktur social, yang mana menekankan pada suatu keteraturan daam masyarakat. Setiap elemen dalam struktur social adalah fungsinal bagi yang lain. Berikut merupakan contoh atau gambaran keadaan yang berkaitan dengan teori fungsional structural Merton yang membahas adanya fungsi-fungsi dalam struktur social, baik itu fungsi manifest, fungsi laten, serta disfungsi yang timbul sebagai konsekuensi terhadap ketidak seimbangan pada masing-masing elemen yang terlibat. Contoh yang akan saya paparkan ialah mengenai “kebijakan pemerintah dalam mengeluarkan srtifikasi guru”.

Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan, berhasil atau tidaknya suatu proses pendidikan serta tinggi rendahnya kualitas suatu pendidikan ditentukan salah satunya oleh guru. Demikian pentingnya peranan seorang guru tentunya membawa pada suatu tanggung jawab untuk menjalankan profesi tersebut dengan suatu sikap profesionalisme yang tinggi. Dan dalam menalankan profesinya, seorang guru tidak hanya dituntut untuk memberikan pengetahuan kepada anak didiknya, akan tetapi harus mampu menjalankan suatu nilai-nilai pendikan. Dalam menjalankan profesinya, guru harus menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsinya secara moral yang mana ia diharuskan membimbing anak didiknya tidak hanya dengan kecerdasannya akan tetapi juga dengan rasa cinta, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Selain itu guru juga harus menjalankan fungsi kedinasannya yaitu mendidik dan membimbing para anak didiknya agar menjadi sumberdaya manusia yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa guru adalah salah satu kompnen manusiawi dalam proses belajar megajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan SDM yang potensial dibiang pembangunan. oleh karena itu, guru merupakan salah satu unsur dibidang kependidikan juga harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga prefesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada kedewasaan atau taraf kematangan tertentu. Oleh karena itu, menurut saya guru idak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge, akan tetapi juga sebagai “pendidik” yang melakukan transfer of values dan sekaligus sebgai “pembimbing” yang memberikan pengaraan dan menuntun siswa dalam belajar. Berkaitan dengan masalah ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat komplek didalam proses belajar mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan anak didik ke taraf yang dicitata citakan. Oleh karena itu, setiap rencana kegiatan guru harus dapat didudukan dan dibenarkan semata-mata demi kepentingan anak didik, sesuai dengan profesi dan tanggung jawabnya. Bekenaan dengan peranan seorang guru, maka profesionalisasi seorang guru sangatlah penting ntuk memenuhi tuntutan masyarakat. Namun demikian, membahas masalah profesionalisasi seorang tidak dapat lepas dari persyaratan atau kualifikasi-kualifikasi yang harus dipenuhi.

Saat ini, profesionalisme guru merupakan suatu hal yang dipertanyakan berkaitan dengan mutu pendidikan diIndonesia. Guru yang seharusnya sebagai media penyalur pendidikan yang bertindak secara profesional ( mengampu mata pelajaran yang sesuai dengan bidangnya), saat ini banyak guru-guru mengampu mata pelajaran yang  berlainan jalur dari bidang yang dimilikinya. Hal ini tentu mempengaruhi mutu pendidikan karena guru yang professional hendaklah guru yang didukung oleh kompetensi yang standar, yakni pemilikan kemampuan atau keahlian yang bersifat khusus, tingkat pendidikan minimal, sertifikasi keahlian, harus menguasai keahlian dalam kemampuan materi keilmuwan dan keterampilan metodologi, memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi atas pekerjaannya baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Negara, lembaga, dan organisasi profesi, serta guru juga harus mengembangkan rasa kesejawatan yang tinggi dengan sesama guru.kesemuanya harus bias dijalankan secara seimbang. namunSayangnya,Indonesiasangat minim dari keberadaan guru yang memiliki tingkat profesionalisme tinggi yang mampu menunjang pendidikan, sehingga hal ini berdampak pada rendahnya mutu pendidikan diIndonesia.

Sertifikasi guru merupakan suatu terobosan baru dalam dunia pendidikan sebagai upaya peningkatan kualitas dan profesionalitas seorang guru, sehingga kedepan guru harus memiliki sertifikat sebagai ijin mengajar. Dengan demikian akan dapat membentuk guru yang profesional dan berkualitas. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan kesejahteraan yang bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya bagus maka KBM-nya juga bagus. Selanjutnya, KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan mutu pendidikan yang bagus pula. Pelakanaan program sertifiasi ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena dengan meningkatnya kualitas pendidikan, maka dapat pula mendongkrak mutu pendidikan. Namun, pada kenyataannya saat ini mayoritas guru tidak lagi memperhatikan kualitas siswa yang hendak dihasilkan sebagai pencapaian hasil belajar mengajar. Namun, lebih mengejar pada target penerimaan sertifikasi guru yang nantinya akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah. Adanya sertivikasi guru yang hendaknya dapat memberi motivasi dalam peningkatan mutu mengajar malah justru hanya memotivasi guru untuk mendapat sertivikasi tanpa memperhatikan kualitas peserta didik yang akan dihasilkan nantinya. Dalam kenyataan yang ada diIndonesiasaat ini bahwa untuk memperoleh sertifikasi guru, hanya dengan menyerahkan portofolio.

Terkait dengan sertifikasi ini, guru yang hendaknya menjadi agen pembelajaran menjadi sosok yang cenderung berorientasi pada sertifikat.   guru berusaha sebisa mungkin untuk dapat mengumpulkan serifikat-sertifikat yang diperlukan baik sertifikat seminar, workshop, diklat, dan lain lain. Sebagian guru rela mengumpulkan serifikat dengan segala cara, termasuk sering meninggalkan kelas untuk mengikuti kegitan tersebut  daripada memikirkan strategi atau tekhnik apa yang akan digunakan ketika mengajar. justru guru..  Hal ini tentunya sangat kontradiktif dengan tujuan yang hendak dicapai terkait dengan pengembangan mutu pendidikan diIndonesia.

Begitu rendahnya tingat profesionalisme guru,menghambat kemajuan mutu pendidikan diIndonesia. Bahkan mutu pendidikan mengalamai kemuduran. Hal ini menjadikanIndonesiaakan semakin terpuruk menjadi Negara yang terbelenggu oleh kebodohan dengan Sumber Daya Manusia yang tidak berkualitas. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan, sehingga pofesionalisme guru perlu dibangun sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan.

Terkait dengan teori fungsional structural, paparan diatas merupakan gambaran terhadap teori tersebut yang mana dikatakan bahwa apabila salah satu sstem tergannggu, maka akan mempeneguruhi sisem yang lain sehingga terjadi ketidak seimbangan. Paparan ditatas membahas tentang profesionalisme guru, yang mana sangat berpengaruh terhadap mutu pendidikan diindonesiasecara keseluruhan. Dalam kaitannya dengan hal ini, bahasan tentang kebijakan pemerintah mengenai sertifikasi guru yang ikut berpengaruh terhadap mutu pendidikan mengandung beberapa fungsi, baik fungsi manifest maupun fungsi laten.

–          fungsi manifest bedasarkan paparan diatas menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah mengenai sertifikasi guru sesungguhnya bertujuan untuk dapat meningkatkan profesionalitas guru. Apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan kesejahteraan yang bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya bagus maka KBM-nya juga bagus. Selanjutnya, KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan mutu pendidikan yang bagus pula. Sehingga secara keseluruhan fungsi manifes menenai kebijakan pemerintah dalam sertifikasi guru ialah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

–          Fungsi laten. Dalam hal ini, pemerintah mengeluarkan kebiakan sertifikasi guru sebagai cara untuk merangsang motivasi guru dalam meningkatkan kualitas atau profesionalitasnya dalam melaksanakan tanggung jawabnya secara maksimal. Namun, pada kenyataannya hasil yang diperoleh tidak maksimal seperti yang diharapkan. Sehinnga muncul disfungsi sebagai konsekuensi terhadap ketidak seimbangan system-sisten yang saling berhubungan.

–          Disfungsi : Terkait dengan sertifikasi ini, guru yang hendaknya menjadi agen pembelajaran menjadi sosok yang cenderung berorientasi pada sertifikat. Sebagian guru rela mengumpulkan serifikat dengan segala cara daripada memikirkan strategi atau tekhnik apa yang akan digunakan ketika mengajar. Hal ini tentunya sangat kontradiktif dengan tujuan yang hendak dicapai terkait dengan pengembangan mutu pendidikan diIndonesia.

Sehingga dapat terlihat bahwa system pendidikan diIndonesiamerupakan satu komponen besar yang didalamnya terdapat komponen-komponen pendukung yang saling berpengerauh. Jika salah satu komponen pendukung tidak berfungsi atau mengganggu fungsi yang lain, dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam system tersebut. Dalam hal ini (yang telah dipaparkan diatas), guru merupakan salah satu unsure pokok yang berpengaruh dalam system pendidikan. Jika fungsi guru tidak berjalan secara maksimal, maka akan mempengaruhi fungsi lain didalam system pendidikan tersebu yang pada akhirnya dapat menimbulkan pada terjadinya kemunduran mutu pendidikan secara keseluruhan.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s