Remaja & Belanja

Remaja dan Belanja

 

Seiring dengan perkembangan jaman terjadilah perubahan pola-pola kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perekonomian dan perkembangan wawasan dalam pola pikir kehidupannya sehari-hari. Sejalan dengan perkembangan dan rotasi kehidupan manusia, terjadilah perubahan kultur budaya dari kehidupan yang tradisional menuju ke arah kehidupan yang modern. Kehidupan modern dipandang sebagai sebuah peningkatan mutu kehidupan manusia yang terkadang menimbulkan dampak-dampak negative. Maka tidaklah heran bila pada akhir-akhir ini sering terjadi perubahan sikap yang mengabaikan tradisi dan budaya lama menuju kearah kehidupan yang menurut mereka merupakan sebagai kehidupan modern. Tidak bisa disalahkan yang mana perulah kiranya sebagai umat manusia untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, yang ditandai dengan munculnya kehidupan modern seperti saat ini. Namun, masing-masing individu tentu memiliki sikap yang berbeda-beda dalam menanggapi perubahan jaman. Dalam hal ini muncul istilahgayahidup.Gayahidup didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam lingkungannya (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga dunia di sekitarnya (pendapat) .  Gayahidup yang muncul dalam kehidupan masyarakat akan terus mengalami perkembangan yang tanpa henti seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan tekhnologi yang semakin canggih. Dengan begitu, maka berkembang luas pula penerapangayahidup oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.Gayahidup seseorang pada umumnya dianggap sebagai suatu gambaran bagi setiap orang yang mengenakannya dan menggambarkan seberapa besar nilai moral maupun status orang tersebut dalam masyarakat disekitarnya. Berbagai macam dan bentukgayahidup yang bermunculan dalam masyarakat dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Dalam arti lain,gayahidup dapat memberikan pengaruh positif maupun pengaruh negative tergantung pada yang menjalaninya.

Selanjutnya, yang akan saya bahas disini adalah ‘belanja’. Belanja termasuk dalam salah satu daftar dari kumpulangayahidup masa sekarang. Hidup kita tentu tidak bisa lepas dengan belanja, karena dengan belanja kita dapat memenuhi segala kebutuhan hidup. Apabila dikaitkan dengan jaman dahulu, orang belanja karena memiliki alasan, yaitu mereka memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Selain itu, mereka tidak akan mengeluarkan uangnya tanpa didasari atas  adanya kebutuhan yang harus mereka penuhi. Berbeda dengan jaman sekarang ini, Belanja menjadi tolok ukur jati diri hidup manusia sebab terkait dengan banyak aspek. Diantaranya aalah aspek psikologis,misalnya, di mana belanja ada hubungan dengan rasa gengsi. Aspek sosial,dengan belanja bisa menunjukkan status orang tertentu. Belum lagi aspek ekonomi, budaya, politik, dan seterusnya. Singkatnya, melalui belanja,seseorang tidak lagi mementingkan apa yang dapat diperbuat dengan barang tersebut, melainkan apa yang dikatakan barang itu perihal dirinya sebagai konsumen. Dalam artian, barang tersebut seakan-akan melambai-lambai untuk dibeli, dan apabila konsumen tidak membeli barang itu, maka konsumen akan merasa dirinya belum memperoleh kepuasan.  Berbelanja (shopping) agaknya telah menjadi ciri-ciri manusia yang hidup di zaman modern dewasa ini. Belanja berubah menjadi kebutuhan bagi manusia yang kiranya tiada henti. Di sinilah letak konsumerisme dalam arti mengubah “konsumsi yang seperlunya” menjadi “konsumsi yang mengada-ada atau berlebihan”. Dalam arti ini, motivasi seseorang untuk berbelanja tidak lagi guna memenuhi kebutuhan dasariah yang ia perlukan sebagai manusia, melainkan didorong oleh suatu rasa keinginan untuk memiliki barang tersebut yang sebenarnya tidak penting untuk dibeli. Setelah barang tersebut berhasil dimiliki, mereka seakan-akan telah memperoleh suatu kepuasan tersendiri. Padahal, barang tersebut bukan menjadi kebutuhan bagi mereka. Dari sinilah belanja telah berubah fungsi. Semula, belanja didasarkan atas dasar kebutuhan, sekarang berubah atas dasar keinginan dan kepuasan semata. Jati diri manusia terukur dari kemampuannya memperoleh sesuatu. Ketika belanja menjadi berlebihan di situlah orang mulai terjangkit ‘gila belanja’, belanja diluar kendali. Belanja tanpa memandang prioritas akan kegunaan dan kepentingan barang tersebut. Belanja pada saat tertekan dan menggunakan belanja sebagai cara untuk menyelesaikan masalah. Seseorang yang gila belanja tidak akan berhenti belanja karena ia memperoleh kenikmatan hidup dalam belanja. Dan kini, belanja menjadi suatugayahidup modern bagi masyarakat.

Kenapa mereka gila belanja??. Tentunya terdapat hal-hal yang menyebabkan mereka gila belanja.

  1. Diskon menarik. Penawaran dengan harga barang yang rendah melalui diskon. Dengan adanya diskon yang ditawarkan, mereka akan tergiur untuk membeli barang-barang yang di tawarkan tersebut, padahal mereka tidak butuh barang-barang itu. Dan mereka akan berkata ‘ah, mumpung ada diskon’. Mereka menganggap bahwa diskon merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk memperoleh barang-barang dengan harga murah. Padahal anggapan tersebut tidak selamanya benar, karena mungkin saja di situ terdapat permainan harga yang tidak mereka sadari karena seakan-akan mereka sudah terbius dengan adanya ‘diskon’ yang menjadikan kita berlebihan dalam berbelanaja.
  2. Model yang up to date. Penawaran mode barang yang up to date. Untuk menarik konsumen, pusat perbelanjaan selalu menawarkan barang-barang dengan model yang terkini atau terbaru, Yang menyebabkan konsumen tertarik untuk membelinya, walaupun sebenarnya konsumen tidak memerlukannya. Dengan adanya model yang selalu up to date ini, seseorang akan merasa gengsi apabila ia tidak memiliki barang tersebut. Sehingga muncullah hasrat mereka untuk berbelanja.
  3. Suasana belanja yang nyaman. Kenyamanan tempat belanja juga dapat mempengaruhi konsumen untuk berbelanja, karena dengan kenyamanan tempat tersebutlah mereka memperoleh suasana yang menyenagkan sebagaimana  lokasi rekreasi, yang akhirnya menimbulkan minat berbelanja. .
  4. Keramah tamahan dalam pelayanan. Untuk memberikan daya tarik tersendiri, maka pusat belanja memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada konsumen dengan harapan konsumen akan datang untuk membeli barang-barang yang telah disediakan.
  5. Kelengkapan barang. Semua barang yang menjadi kebutuhan para konsmen dari kebutuhan primer sampai sekunder disediakan dengan lengkap sehingga para konsumen tidak perlu pidah ketempat perbelanjaan yang lain. Sehingga seseorang terkadang tidak menyadari akan barang-barang yang dibelinya tersebut, dalam artian, mereka tidak memikirkan apakah barang tersebut merupakan suatu kebutuhan atau hanya keinginan semata
  6. Arena pakir yang luas. Pusat-pusat perbelanjaan telah menyediakan tempat parker bagi para konsumen dengan memadai, sehingga mereka merasa aman dalam menempatkan sarana transportasinya. Dengan demikian, akan menimbulkan daya tarik tersendiri untuk berbelanja pada pusat perbelanjaan tersebut.
  7. Keamanan dalam berbelanja. Untuk melindungi konsumen dari kejahatan di pusat perbelanjaan menyediakan personil sekuriti sehingga keleluasaan dalam berbelanja lebih terjamin dari segi keamanannya.
  8. Undian berhadiah atau doorprize. Untuk menarik perhatian konsumen, pusat-pusat perbelanjaan memberikan kupon berhadiah. Sehingga konsumen tertarik untuk membeli barang tersebut.

Segala iming-iming yang telah tersebut diataslah yang dapat mendorong seseorang menjadi gila belanja. Karena semua fasilitas-fasilitas yang telah disediakan oleh pusat perbelanjaan, semuanya tertuju untuk kepuasan, kenyamanan, serta ketertarikan bagi konsumen untuk berbelanja. Sehingga mereka akan tergiur oleh barang-barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan.

Tidak hanya masyarakat dewasa atau masyarakat yang berpenghasilan saja yang mengubahgayahidup dalam kehidupan sehari-hari kearahgayahidup yang lebih  modern. Perkembangan jaman yang merubahgayahidup masyarakat juga ikut mewarnai kehidupan generasi muda, termasuk didalamnya adalah remaja. Masa remaja merupakan masa pencarian identitas. Remaja sebagai masa peralihan yang terjadi pada setiap individu dari anak-anak menuju masa dewasa dimana masa yang harus dilewati dari dunia yang membedakan antara kanak-kanak dengan tahapan selanjutnya yaitu remaja. Pada masa ini seseorang seringkali merasa kebingungan dalam menentukan peranannya.  Pada usia remaja pada umumnya sudah mencarigayahidup yang menurut mereka pas dan sesuai dengan selera.Gayahidup bagi remaja merupakan hal yang penting karena seringkali mereka memberikan poin positif dan poin negative tergantung pada penampilan luarnya semata. Sehingga tidaklah heran bahwagayahidup merupakan bagian dari penunjukan identitas dan kepribadian diri. Pada umumnya remaja memilih tipe-tipe kepribadian yang diinginkam melalui macam-macam contoh kepribadian yang banyak beredar di sekitarnya seperti bintang iklan, penyanyi, model, bintang film, atau bahkan mereka juga menciptakangayahidup tersendiri dalam berpenampilan yang sebelumnyagayatersebut belum pernah digunakan oleh orang lain sehingga terkesan unik dan heboh. Melalui media-media yang banyak terdapat pada lingkungan masyarakat memiliki peranan yang cukup kuat untuk memperkenalkan secara luasgayahidup baru yang diberi label ‘modern’.

Dalam hal ini, gila belanja merasuk pada generasi muda (remaja). Seperti yang terjadi pada jaman modern sekarang ini. Gila belanja yang merasuk pada jiwa remaja tentunya disebabkan oleh factor-faktor tertentu, diantaranya adalah penampilan. Penampilan merupakan suatu hal yang dianggap penting bagi para generasi muda karena penampilan dianggap sebagai suatu gambaran dari identitas diri. Dengan begitu, mereka akan selalu berusaha mengikuti mode-mode yang sedang marak di pasaran, padahal mode-mode tersebut akan terus mengalami perubahan yang tiada henti. Hal ini tentunya akan menjadikan remaja menjadi individu yang memiliki sifat konsumtif, karena mereka sebisa mungkin akan berusaha atau mengupayakan untuk dapat memenuhi kepuasan dalam berpenampilan sehingga gengsi mereka akan tetap terjaga Dan pada usia remaja inilah pola konsumsi seseorang akan mulai terbentuk. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Demi memperoleh kepuasan dalam berpenampilan inilah yang menjadikan mereka memilikigayahidup ‘suka belaja’. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar.. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

perilaku konsumtif yang sudah merasuk pada pribadi remaja dapat kita lihat pada kebiasaan remaja-remaja jaman sekarang yang memiliki hobi belanja. Pusat perbelanjaan tidak akan pernah sepi dari kunjungan para remaja. Dari yang semula mereka hanya berniat untuk sekedar jalan-jalan saja, tetapi setelah mereka berkeliling dan bertemu dengan barang-barang yang mereka anggap menarik, mereka akan tergiur untuk bebelanja. Apalagi ditambah dengan adanya rangsangan diskon. Akhirnya, mereka akan membeli barang tersebut atas dasar keinginan, bukan kebutuhan. Dan dari sinilah perilaku konsumtif akan mulai tumbuh.

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebagai usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. dalam arti lain, remaja akan selalu mengikuti perkembangan mode agar dapat diterima dilingkungannya dan tidak terkesan ketinggalan jaman.

Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak dari pada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Seperti yang dialamai oleh salah satu teman saya waktu SMA. Ia merupakan salah satu individu yang menjadikan belanja sebagaigayahidup. Namun sayangnya, ia tidak dapat mengontrolgayahidupnya tersebut, sehingga menimbulkan masalah tersendiri bagi dirinya. Disini, saya akan sedikit bercerita tentang teman saya teresebut. Pada waktu kelas 3 SMA, dia dipanggil guru karena belum membayar uang sekolah. Menurut penuturannya, sebenarnya ia sudah diberi uang sekolah oleh orang tuanya, namun uang yang seharusnya digunakan untuk membayar sekolah, ia gunakan untuk berbelanja. Yang dibeli bukanlah barang-barang yang menjadi kebutuhan sekolah, tetapi barang-barang yang sebetulnya tidak penting untuk dibeli.Selain itu, banyak para remaja yang lebih mementingkan belanja barang-barang yang tidak penting daripada menggunakan uangnya untuk membeli buku-buku pelajaran.  Fakta seperti ini tentunya sering kita temukan, atau bahkan kita mengalami sendiri akan hal ini.  Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalamgayahidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengangayahidup konsumtif.Gayahidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Jika tidak didukung oleh kekuatan financial yang memadai, berkemungkinan besar, seseorang yang gila belanja akan melakukan cara-cara yang tidak sehat untuk dapat memenuhi hasrat atau keinginan berbelanja demi memperoleh kepuasan tersendiri. Misalnya, melakukan korupsi karena adanya desakan untuk memperoleh kenikmatan dan kenyamanan hidup dengan selera tinggi sedangkan daya dukungnya tidak memadai, sehingga korupsi adalah jembatan emas untuk mencapai impiannya. Korupsi tidak hanya terjadi di institusi baik pemerintah ataupun swasta baik dilakukan oleh aparatur pemerintah ataupun pegawai swasta. Masyarakat kitapun sebenarnya sudah mempraktekan perilaku korup dari yang besar hingga yang kecil, jenjang tinggi hingga jenjang bawah. Dalam hal ini, tak terkecuali adalah para remaja. Yang dapat kita amati dari kebiasaan para remaja yang menggunakan uangnya yang seharusnya digunakan untuk membayar uang sekolah, tetapi digunakan untuk memenuhi gayahidupnya ‘belanja’.

 

 


Iklan

4 comments on “Remaja & Belanja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s