PEREMPUAN PEKERJA TAMAN PENITIPAN ANAK “SEKAR MELATI” DALAM PEESPEKTIF SOSIOLOGI GENDER

Gender dapat diartikan sebagi suatu bentuk konstruksi sosial dan cultural yang menggambarkan budaya atas perbedaan jenis kelamin. Bagaimanapun gender memang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin, akan tetapi tidak selalu berhubungan dengan fisik seperti yang banyak dijumpai di masyrarakat. Namun demikian, gender tidaklah bersifat universal, tetapi berbeda-beda dari masyarakat satu ke masyarakat yang lain serta dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, masyarakat Jawa secara tradisi menganut konsep social gender yang patriarkis. Implikasi secara umum adalah wanita menjadi sub ordinat pria.

Bagi masyarakat tradisional, patriarki di pandang sebagai hal yang tidak perlu dipermasalahkan, karena hal tersebut selalu dikaitkan dengan kodrat dan kekuasaaan adikodrat yang tidak terbantahkan. Kepercayaan bahwa Tuhan telah menetapkan adanya perbedaan laki-laki dan perempuan, sebingga perbedaan dalam kehidupan manusia pun diatur berdasarkan perbedaan tersebut. Tambah lagi, faktor agama telah digunakan untuk memperkuat kedudukan kaum laki-laki. Determinise biologis juga telah memperkuat pandangan tersebut. Artinya. karena secara biologis perempuan dan laki-laki berbeda maka fungsi-fungsi sosial ataupun kerja dengan masyarakat pun di ciptakan berbeda. Laki-laki selalu dikaitkan dengan fungsi dan tugas di luar rumah, sedangkan perempuan yang berkodrat melahirkan ada di dalam rumah, mengerjakan urusan domestik saja. Perempuan bertugas pokok membesarkan anak, laki-laki bertugas mencari nafkah. Perbedaan tersebut di pandang sebagai hal yang alamiah. Itu sebabnya ketimpangan yang melahirkan subordinasi perempuan pun dipandang sebagai hal yang alamiah pula. Hal tersebut bukan saja terjadi dalam keluarga, tetapi telah melebar ke dalam kehidupan masyarakat.

Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai  sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan  isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat  masih menganggap idealnya suami berperan sebagai pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan  istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut  tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup mata bahwa kadang-kadang  istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki  atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup, saya lebih suka isteri saya di rumah  merawat anak-anak”.

Dalam hal ini, saya akan menunjuk suatu fenomena yang berkaitan dengan uraian diatas,  kemudian akan saya kaji dalam perspektif sosiologi gender.

Kita ketahui bahwa adanya kemajuan jaman membuat kebutuhan akan ekonomi keluarga semakin meningkat. Sejalan dengan hal ini, untuk mampu mempertahankan diri ditengah persaingan  globlal perlu diimbangi pula dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan. Jikalau peningkatan akan kebutuhan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka kita  akan mengalami ketertinggalan atau bahkan keterbelakangan.

Ketika dalam suatu keluarga berada pada taraf ekonomi yang sudah cukup (berasal dari pendapatan suami), maka sang istri tidak perlu bersusah payah untuk ikut serta mencari pendapatan tambahan bagi keluarga. Sang istri hanya cukup di rumah sebagai iburumah tangga yang begelut dengan urusan domestic. Pandangan seperti ini masih banyak terpatri pada masyarakat disekitar kita, yang menganggap bahwa urusan mencari nafkah adalah urusan laki-laki(suami), sedangkan urusan domestic yang meliputi mengasuh anak, memasak, mencuci, serta sebagainya yang berurusan dengan pekerjaan rumah merupakan tugas mutlak seorang istri.

Lain halnya dengan keadaan keluarga yang berstatus memiliki perekonomian rendah. Ia tidak bisa hanya mengandalkan pndapatan suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi melihat kenyataan bahwa kemajuan jaman menjadikan kebutuhan akan ekonomi semakin meningkat. Mereka harus mampu memutar otak bagaimana supaya kebutuan mereka dapat terpenuhi. Untuk itu,dalam hal ini dibutuhkan peran istri untuk ikut serta mencari pendapatan bagi keluarga. Kasus seperti ini tentunya sudah banyak kita jumpai dilingkungan sekitar kita. Salah satunya di lingkungan tempat tinggal saya, yakni para perempuan yang bekerja sebagai pengasuh anak di Tempat Penitipan Anak “Sekar Melati” desa Getas Pejaten, kecamatan Jati, kabupaten Kudus.

Pada umumnya perempuan yang bekerja di TPA (Tempat Pebitipan Anak) ini berasal dari keluarga berstatus perekonomian rendah. Ketika berada pada jaman dahulu, dimana kebutuhan akan ekonomi belum terlalu mengalami peningkatan seperti sekarang, perempuan-perempuan tersebut hanya dirumah menjadi Ibu Rumah Tangga yang bergelut dengan peran domestiknya. Hal ini tentu tidak menjadi masalah karena pada jaman itu pendpatan dari suami sudah cukup bisa dandalkan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Lain halnya dengan jaman sekarang, jaman sudah semakin maju, kebutuhan akan pemenuhan aspek ekonomi smakin meningkat. Hal ini jika tidak diimbangi dengan kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan, maka yang terjadi ialah kemiskinan. Untuk itu, mereka tidak bisa mengandalkan pemenuhan kebutuhan hanya dari pendapatan suami yang mayoritas hanya sebagai buruh pabrik. Berbekal kemampan domestinya, terutama dalam mengasuh anak, mereka memilih untuk bekerja sebagai pengasuh anak di TPA. Mereka memilih untuk bekerja sebagai pengasuh anak,karena pekerjaan tersebut tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Yang diperlukan hanyalah kemampuannya dalam mengasuh anak yang selama ini telah terkonstruksi di masyarakat sebagai tugas seorang Ibu, dan pada kenyataannya penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai pengasuh anak di TPA tersebut memang mampu untuk melangkapi pendaptan suami.

Tiak ada yang salah dengan pekerjaan tersebut. Namun, Apabila dikaji lebih lanjut  dalam  sosiologi gender, hal tersebut menimbulkan banyak hal dapat menimbulkan petanyaan dan pernyataan .

Dalam budaya yang telah teronstruksi di masyarakat menyebutkan bahwa wilayah public merupakan wilayah yang didominasi laki-laki, dan wilayah domestic merupakan wilayah yang dimiliki perempuan. Melalui proses perkembangan, hal tersebut sudah mulai luntur, dibuktikan dengan semakin banyaknya perempuan yang ikut serta dalam memenuhi kebutuhan keluarga, artinya bahwa banyak perempuan yang sudah mulai terjun keranah public untuk mengaktualisasikan diri.

Berdasarkan fenomena yang telah terurai di atas, peran perempuan dalam ikut serta membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, menggambarkan bahwa perempuan yang terkonstruksi oleh budaya sebagai pemilik peran domestic yang bisa dikatakan “saru” apabila mereka ikut bekerja daloam menopang kebutuhan keluarga, kini sdah mulai pudar. Mereka memang sudah mulai ikut serta mengaktualisasikan diri dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, pekerjaan yang dipilihpun tidak terlepas dari peran perempuan sebagai pemilik ranah domestic, dalam fenomena yang saya kaji disini yakni pekerjaan sebagai pengasuh anak di TPA. Hal ini agaknya susah untuk dipaami karena yang mereka tau hanyalah mereka bekerja karena adanya tuntutan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, dalam prspektif gender, hal ini menjadi bahan yang banyak diperbincangkan.

Mengapa pekerjaan pengasuh anak jarang atau bahkan tidak ada yang dipegang oleh seorang laki-laki ?, hal ini bisa dikaji dengan sosiologi gender, dimana dalam masyarakat telah terkonstruksi budaya yang membatasi peran antara laki-laki dan perempuan. Hal ini terus berlanjut selama masyarakat tidak menyadari adanya ketimpangan gender dalam kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

Perempuan yang bekerja sebagai pengasuh anak di TPA tampak tidak menyadari bahwa dalam kehidupannya masih terpatri budaya kuno yang kental dengan pandangan bahwa wanita berperan dalam ranah domestic. Namun bedanya,mereka bekerja tidak berada pada ruang rumah tangga yang dimiliki (dirumah miliknya),melainkan  mereka bekerja sebagai pengasuh anak orang lain, yang nantiya bisa menghasilkan pendapatan dan dapat ikut menopang dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Disisi lain, mereka juga harus tetap bertanggung jawab dalam urusan domestic rumah tangganya. Disini tampak adanya beban ganda perempuan. Mereka sebagai masyarakat awam tentu tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka menganggap bahwa peran wanita memang seperti itu. “hidup ini adalah pilihan” jika mereka tidak mampu mempertahankan diri ditengah jaman yang semakin maju dengan aspek pemenuhan ekonomi yang semakin meningkat seperti ini, mereka akan menjadi kelompok masyarakat yang terbelakang dan terancam akan mengalami kemiskinan karena tidak mampu mengimbangi kemajuan jaman dan peningkatan kebutuhan dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan.

Adanya ketimpangan-ketimpangan gender agaknya tidak menjadi suatu masalah yang berarti bagi mereka karena mereka merasa bahwa peran peempuan memang seperti itu, dan yang terpenting adalah mereka mampu bertahan hidup, dengan pendapatan yang diperoleh.

Adanya istilah “hidup adalah pilihan” menggambarkan bahwa bagi mereka yang memilih untuk tetap berpedoman pada budaya yang telah terkonstruksi, yakni perempuan yang baik  ialah perempuan yang bertanggungjawab kepada suami, mengasuh anak,bertanggungjawab terhadap urusan rumah tangga, serta urusan keluarga, dan menganggap bahwa perempuan yang bekerja diluar rumah merupakan sesuatu hal yang tabu akan tetap seperti itu dan kehidupannya tidak akan pernah mengalami kemajuan.apalagi melihat perkembangan jaman sekarang, dimana persaingan ekonomi semakin meningkat. Siapa yang tidak mampu mempertahankan diri akan masuk pada kategori terbelakang.

Dari uarian di atas tergambar bahwa perkembangan jaman menjadikan peran perempuan dalam ranah public semakin tampak. Namun, disi lain peran ganda perempuan juga masih terlihat nyata. Bagi perempuan yang bekerja di luar rumah, mereka juga harus tetap bertanggung jawab dalam urusan domestic. Hal tersebut bagi para perempuan tidak terlalu dipermasalahkan karena ketika mereka memilih utuk bekerja di luar rumah, mereka juga harus mau mengambil konsekuensi yang ada, yakni tetap bertanggungjawab terhadap urusan domestic. Karena hidup ini adalah pilihan, daripada mereka tersisih dari perkembangan jaman, maka banyak perempuan yang mulai terjun keranah ranah public demi mempertahankan diri dari perkembangan jaman, dan dengan tetap mengambil konsekuensi yakni adnya beban ganda perempuan yakni mereka harus tetap bertanggungjawab terhadap urusan domestic. Namun, disisi lain banyak pula perempuan yang memilih untk tetap berpedoman pada budaya kuno yakni sibuk dirumah dengan urusan domestiknya.

Iklan

2 comments on “PEREMPUAN PEKERJA TAMAN PENITIPAN ANAK “SEKAR MELATI” DALAM PEESPEKTIF SOSIOLOGI GENDER

  1. tulisan yang diterbitkan dalam blog ini sudah cukup bagus. tulisan sudah dalam bentuk artikel, penulisannya sudah cukup rapi serta tidak ada pengulangan judul dan cover tugas seperti pada tulisan di blog yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s