Analisis Masyarakat

Selain sebagai makhluk individu Manusia juga merupakan makhluk social, mereka membutuhkan bantuan individu lain dalam memenuhi kebutuhan. Manusia juga merupakan makhluk yang memiliki suatu keinginan untuk dapat menyatu dengan sesamanya atau individu-individu lain serta alam lingkungan di sekitarnya.. Manusia  adalah makhluk yang dibekali akal pikiran, perasaan, naluri, keinginan, dan sebagainya. interasi social merupakan naluri manusia yang sjak lahir membutuhkan pergaulan dengan sesamanya. Sehingga, manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi. Pola interaksi social tersebut dihasilkan oleh hubungan yang berkelanjutan dalam suatu masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, maing-masing indvidu memiliki pola piker, kebudayaan, ras, suku,serta agama yang bereda-beda. Hal tersebut menjadikan kondisi masyarakat mejadi heterogen. Kondisi masyarakat yang heterogen tersebut mayoritas terjadi dalam masyarakat perkotaan.Kehidupan masyarakatkotalebih mengarah pada individual dan kurang mengenal antara warga yang satu dengan warga yang lainya meskipun tempat tinggalnya berdekatan. Rasa persatuan tolong menolong an gotong royong juga mulai pudar. Hal ini berbeda dengan masyarakat di daerah pedeaan, masyarakat di daerah pedesaan mayoritas masih bersiat homogen, walaupun pada kenyataannya ada juga masyarakat di daerah pedesaan yang bersifat heterogen, namun masih dalam presetase yang amat kecil.

Selanjutnya, saya akan menggambarkan kondisi masyarakat di daerah saya, yaitu desa tanjung karang RT:3 RW:1, kecamatan jati, Kudus. Di desa ini, masyarakatnya memegang teguh rasa persaudaraan diantara mereka.  Kondisi masyarakat pada daerah ni masih bersifat homogen. Perbeaan suku, ras, serta agama tidak terlalu menonjol. Mayoritas penduduk di daerah ini beragama islam. Agama lain ada, namun jumlahnya hanya sedikit.Walaupun agama lain hanya sebagai minoritas, hal ini sama sekali tidak mempengaruhi pergaulan diantara mereka. Masyarakat di daerah tersebut mayoritas berasal dari suku jawa. Mereka menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa komunikasi dalam sehari-hari. Karena masyarakat pada daerah ini masih bersifat homogen, dalam hal kebudayaan mereka juga memiliki tradisi yang sama. Tradisi yang berbau Jawa tetap dilestarikan oleh mereka. Misalnya mengadakan selametan ketika ada kelahiran bayi, khitanan, pernikahan, membangun rumah, dan sebagainya.

Masyarakat desa tanjung karang tidak jauh bereda dengan masyarakat di desa lain pada umumnya,yaitu sebagai desa yang agraris dengan memiliki mata pencaharian dari sector pertanian walaupun juga di dukung oleh sector-sektor lainnya yang bersifat non pertanian.,Misalnya sebagai buruh pabrik rokok. Masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai pegawai negeri, TNI, serta POLRI, presentasenya relative kecil.

Di desa Tanjung karang terdapat perkumulan-perkumpulan diantara para waga diantaranya :

–          PKK

–          Pengajian

–          Perkumpulan remaja masjid

–          Karang taruna

Dengan adanya pekumpulan-perkumpulan tersebut, kekerabatan antar warga akan selalu terjalin dengan baik.

Kondisi masyarakat yang bersifat homogen ini, memberikan beberapa dampak bagi masyarakat itu sendiri dan bagi lingkungan di daerah tesebut. Baik dampak positif maupun dampak negative.

Kondisi masyarakat yang homogen tersebut,memberikan dampak positif karena di latar belakangi oleh suku, ras, serta agama diantara mereka yang sama. Dengan adanya kesamaan-kesamaan tersebut, maka dalam melakukan komunikasi mereka akan merasa lebih mudah apabila dibandingkan dengan melakukan komunikasi diantara warga yang bersifat heterogen. Kondisi masyarakat yag bersifat homogen ini dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara para warga menjadi semakin erat  Kontrol social diantara para warga masih tinggi dan rasa kegotong royongan diantara mereka masih kuat.

Kondisi masyarakat yang homogen ini, , memiliki pola hidup, tingkah laku, maupun ebudayaan yang sama, oleh karena itu, kehidupan di desa tersebut erasa tentram, aman, dan tenang. Hal ini juga dilator belakangi oleh pola piker, pola penyikap, dan pola pandangan yang sama dari setiap warganya dalam menghadapi masalah. Kebersamaan, kesederhaaan, dan keserasian selalu menjiwai dalam masyarakat tersebut. Dengan adanya pola piker,pola penyikap, dan pola pandangan yang sama, mereka selalu berusaha bersama untuk dapat menciptakan kenyamanan desa secara bersama-sama. Misalnya dalam hal pembangunan fisik maupun non fisik pada desa tersebut. Pembangunan fisik, misalnya pembangunan jalan, masjid, serta fasilitas-fasilitas desa yang lain, dilakukan secara gotong royong karena mereka menganggap bahwa fasilitas-fasilitas ersebut mereka gunakan secara bersaa-sama, jadi dalam diri mereka suah tertana suatu kesadaran untuk membangun fasilitas tersebut scara bersama. Dalam pembangunan desa secara non fisik, desa tanjungkarang masih melanjutkan tradisi siskampling keliling desa. Dalam sisikampling tersebut, masing-masing keluarga sudah memiliki jadwal tersendiri. Jadi, dalam pelaksanaannya, mereka ssudah mempunyai kesadaran sendiri untuk melakukan tugasnya. Selain itu, masaing-masing rmah menyediakan jimpitan, jimpitan tersebut berupa uang senilai Rp.200,00. Jimpitan tersebut di masukkan ke dalam gelas plastic yang di letakkan di atas pagar masing-masing rumah. Setiap petugas siskampling keliling, mereka mengambil jmpitan dari masing-masing rumah Jimpitan tersebut dikumpulkan untuk dijadikan kas desa, yang nantinya dapat digunakan untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas desa. Dalam menyediakan jimpitan tersebut, masing-masing rumah juga sudah memiliki kesadaran sendiri. Pada intinya, kondisi masyarakat yang homogen memiliki dampak yang positif bagi masyarakat di desa tersebut, maupun lingkungan, karena mereka memiliki banyak kesamaan, diantaranya kesamaan pola pikir, pola penyikap dan pola pandangan. Jadi dalam pelaksanaan interaksi maupun pembangunan desa akan labih mudah di lakukan.

Kondisi masyarakat yang bersifat homogen ini, tidak hanya memililki dampak positf saja, tetapi juga memiliki dampak yang negative. Baik dampak negative bagi masyarakatnya sendiri maupun dampak negative terhadap lingkungannya. Pada masyarakat yang bersifat homogen, mereka memiliki pola pikir yang hampir sama. Dalam pola pikirnya tersebut, mereka menganggap bahwa apa yang ada merupakan hasil dari pola pikir mereka secara maksimal. Padahal apabila mereka dapat memandang pola pikir yang lain, mereka dapat membandingkan mana yang lebih bagus. Dengan begitu, mereka dapat memilah dan akan mendapatkan hasil secara lebih maksimal, sehingga dapat dikataan bahwa dalam masyarakat desa yang bersifat homogen memiliki pandangan yang sempit. Pada masyarakat homogen, pada umumnya setiap angota masyarakat hanya mampu melaksanakan salah satu bidang saja. Misalnya, para petani menganggap bahwa pertanian merupakan satu-satunya pekerjaan yang harus ia tekuni dengan baik. Bila bidang pertanian tersebut kegiatannya kosong, maka ia hanya menunggu sampai ada lagi kegiatan di bidang pertanian. Disamping itu, dalam mengolah pertanian, tidak ada kemajuan atau perubahan. Hal ini disebabkan karena mereka memilikipengetahuan yang masih kurang. Jadi bias dikatakan bahwa kondisi di masyarakat yang homogen bersifat monoton karena mereka memiliki suatu pola pikir dan pandangan hidup yang hamper sama.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 comments on “Analisis Masyarakat

  1. sebaiknya didalami lagi kajian tentang analisis masyarakatnya mbak…tapi tulisan diatas sudah cukup bagus kok.!!! diteruskan menulisnya ya ! semagat !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s