Analisis Abangan-Santri-Priyayi

Abangan, Santri Priyayi – Perspektif Clifford Geertz

Pada dasarnya, masyarakat merupakan sebuah system social dimana terdapat komponen-kompoen atau jaringan yang saling berpengaruh. Di dalamnya juga terdapat pranata social yang mengatur pola perilaku dan interaksi antar masyarakat. Ketika semua system berjalan secara seimbang, maka akan tercipta masyarakat yang tentram dan harmonis. Secara alami, dalam suatu system masyarakat terdapat pula stratifikasi social, yakni penggolongan masyarakat ke dalam kelas-kelas berdasarkan suatu criteria tertentu,sehingga dalam hal ini melalui adanya stratifkasi social seperti tersebut, akan menimbulkan tingkatan-tingkatan social dalam masyarakat.

Dalam hal ini Clifford Geertz melihat bahwa masyarakat merupakan sebagai suatu system social dengan kebudayaannya yang akulturatif dan agamanya yang sinkretik, terdiri atas sub-kebudayaan Jawa yang masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan. Struktur-struktur sosial yang dimaksud adalah Abangan,Santri, dan Priyayi. santri digunakan untuk mengacu pada orang muslim yang mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat islam. Kelompok abangan merupakan golongan penduduk jawa muslim yang memprtikkan islam dalam versi yang lebih sinkretis bila dibandingkan dengan kelompok santri yang ortodoks dan cenderung mengikuti kepercayaan adat yang didalamnya mengandung unsur tradisi Hindu, Budha, dan Animisme. Sedangkan kelompok priyayi digunakan sebagai istilah orang yang memiliki tingkat sosial yang lebih tinggi atau sering disebut kaum bangsawan. Santri, abangan, dan priyayi seperti halnya yang telah disebutkan sebelumnya merupakan lapisan social masyarakat jawa yang merupakan hasil penelitian Clifford Geertz di Mojokuto yang dituliskan dalam sebuah bukunya berjudul The Religion of Java (1960).

Geertz juga mengambil penggolongan penduduk menurut pandangan masyarakat Mojokuto yang didasarkan pada kepercayaan, preferensi etnis dan pandangan politik. Dia kemudain menemukan tiga inti struktur sosial yakni desa, pasar dan birokrasi pemerintah yang mencerminkan tiga tipe kebudayaan: abangan, santri dan priyayi. Struktur sosial desa biasanya diasosiasikan kepada para petani, pengrajin dan buruh kecil- yang penuh dengan tradisi animisme upacara slametan, kepercayaan terhadap makhluk halus, tradisi pengobatan, sihir dan magic menunjuk kepada seluruh tradisi keagamaan abangan. Sementara pasar terlepas dari penguasaan etnis Cina yang tidak menjadi pengamatan Geertz- diasosiasikan kepada petani kaya dan pedagang besar dari kelompok Islam berdasarkan kondisi historis dan sosial di mana agama Timur Tengah berkembang melalui perdagangan dan kenyataan yang menguasai ekonomi Mojokuto adalah mereka memunculkan subvarian keagamaan santri. Yang terakhir adalah subvarian priyayi. Varian ini menunjuk pada elemen Hinduisme lanjutan dari tradisi Keraton Hindu-Jawa. Sebagaimana halnya Keraton (simbol pemerintahan birokratis), maka priyayi lebih menekankan pada kekuatan sopan santun yang halus, seni tinggi, dan mistisisme intuitif dan potensi sosialnya yang memenuhi kebutuhan kolonial Belanda untuk mengisi birokrasi pemerintahannya.

Tampak bahwa Skema konsepsi bagi pembagian masyarakat Jawa yang dibuat oleh Clifford Geertz berdasarkan penelitian lapangan di Majokuto adalah tiga tipologi budayawi utama, yakni; abangan, santri, dan priyayi. Tiga varian tersebut secara ringkas dideskripsikan sebagai berikut :

Abangan yang mewakili sikap menitikberatkan segi-segi animisme sinkretisme Jawa yang menyeluruh, dan secara luas berhubungan dengan unsur-unsur petani di antara penduduk; Santri yang mewakili sikap menitikberatkan pada segi-segi Islam dalam sinkretisme tersebut, pada umumnya berhubungan dengan unsur pedagang (maupun juga dengan unsur-unsur tertentu di antara para petani); dan Priyayi yang sikapnya menitikberatkan pada segi-segi Hindu dan berhubungan dengan unsur-unsur birokrasi.

Istilah abangan oleh Clifford Geertz diterapkan pada kebudayaan orang desa, yaitu para petani yang kurang terpengaruh oleh pihak luar dibandingkan dengan golongan-golongan lain di antara penduduk. Adapun istilah santri diterapkan pada kebudayaan muslimin yang memegang peraturan dengan keras dan biasanya tinggal bersama di kota dalam perkampungan dekat sebuah masjid yang terdiri dari para pedagang di daerah-daerah yang lebih bersifat kota. Istilah priyayi diterapkannya pada kebudayaan kelas-kelas tertinggi yang pada umumnya merupakan golongan bangsawan berpangkat tinggi atau rendah.

Pengamatan adanya abangan, santri , priyayi – di Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus

Berdasarkan sedikit gambaran mengenai penggolongan masyarakat jawa yang terdiri dari kaum abangan, santri, dan priyayi seperti di atas, agaknya pada jaman sekarang memang susah untuk dapat mengklasifikasikan masyarakat Jawa kedalam golongan-golongan tersebut, melihat kenyataan bahwa dampak modernitas lambat laun telah menimbulkan perubahan-perubahan pada system masyarakat. Pembedaan atau penggolongan masyarakat ke dalam tiga kategori tersebut agaknya sudah mulai samar di identifikasi, tidak seperti pada masyarakat jawa pada jaman dulu yang masyarakatnya memang sarat dengan kebudayaan yang selalu dipegang teguh oleh mereka. Namun, Dalam tulisan ini saya akan mencoba mengidentifikasi ketiga struktur social seperti yang telah tersebut diatas, apakah masyarakatnya termasuk ke dalam golongan kaum abangan,santri, atau priyayi, tepatnya di daerah tempat tinggal saya, yakni di Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus.

Berdasarkan criteria yang melatar belakangi penggolongan masyarakat ke dalam 3 struktur social (abangan, santri, priyayi) seperti di atas, secara umum atau mayoritas, masyarakat di desa saya ini saya golongkan sebagai kaum abangan. Hal ini saya lihat dari segi system keagamaan yang dilakukan. Walaupun pada kenyataannya mereka selalu taat pada ajaran-ajaran islam sebagaimana mestinya seperti melakukan sholat 5 waktu, melaksanakan sholat Jum’at bagi laki-laki, melaksanakan puasa ramadhan, mengikuti hari besar keagamaan, dan lain sebagainya, namun Mereka masih memegang teguh adanya kepercayaan-kepercayaan yang diwujudkan dalam bentuk selametan-selametan, misalnya: kelahiran, pindah rumah, kematian, dan lain sebagainya. Untuk wanita yang sedang  hamil 7 bulan misalnya, disini masih terdapat adat mitoni yang diwujudkan dengan slametan dalam bentuk hajatan yang dihadiri tetangga sekitar. Untuk kematian, disini selalu ada acara kirim do’a ketika masuk pada hari ke 3, hari ke 7, hari ke 40, dan seterusya, acara kirim do’a ini biasanya diadakan oleh keluarga yang ditinggalkan, dengan mengundang tetangga sekitar untuk melakukan do’a bersama. Adanya selametan ini menandakan bahwa pada masyarakat ini masih percaya akan adanya roh dan makhluk halus yang menjadi dasar bagi mereka untuk melakukan ritual atau selmetan. Akan ada perasaan tidak nyaman apabila pada acara-acara tertentu individu atau pihak yang bersangkutan tidak melakukan selametan, karena pada dasarnya tradisi slametan ini sudah menjadi suatu kebisaan bagi masyarakat di desa ini. Dalam hal ini tampak bahwa kaum abangan paham akan tradisi-tradisi slametan. Namun, tradisi tersebut hanya berlangsung dalam unit kecil, yakni unit rumah tangga. Sperti halnya yang telah tergambar seperti di atas, ketika masyarakat mengadakan acara selametan, mereka hanya mengundang tetangga di sekitar rumah. Hal ini berarti bahwa acara selametan ini hanya merupakan sebagai tradisi dalam unit kecil atau unit rumah tangga saja.

Selain itu, pada mayarakat ini juga masih percaya akan adanya peran dukun sebagai tokoh yang mampu melakukan pengobatan, seperti halnya yang masih bisa saya temukan di desa ini yakni dukun pijet dan dukun jampi. Dukun pijet ini  biasanya berperan untuk memberi pertolongan bagi bayi/anak yang secara medis seharusnya sudah bisa berjalan, namun pada kenyatannya bayi/anak tersebut belum juga bisa berjalan. Dukun pijet ini memiliki peran rangkap, yakni berperan juga dalam memberikan pengobatan bagi anak atau bayi yang dalam istilah jawa terkena “sawanan”. Sawanan ini bagi mayarakat jawa di percaya sebagai sesuatu yang ditimbulkan dari roh halus. Ketika seorang anak mengalami sawanan, tubuhnya akan terasa panas, dan sang anak tersebut akan rewel (menangis). Untuk menghilangkan sawanan ini, masyarakat masih percaya pada peran dukun jampi.

      Keberadaan golongan santri di desa ini sangat sedikit jumlahnya, sperti halnya para ustadz, guru-guru ngaji, pengumandang adzan, dan lain sebagainya. Justru kebanyakan dari mereka bertempat tinggal di kawasan sekitar menara kudus, yang biasanya disebut sebagai masyarakat kauman. Hal ini sesuai dengan pandangan Cliffort Geertz yang mengatakan bahwa istilah santri diterapkan pada kebudayaan muslimin yang memegang peraturan dengan keras dan biasanya tinggal bersama di kota dalam perkampungan dekat sebuah masjid yang terdiri dari para pedagang di daerah-daerah yang lebih bersifat kota. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan, pada masyarakat kauman mayoritas memang tergolong dalam kaum santri. Hal ini ditujukkan dengan system keagamaan yang mereka lakukan. Kehidupan keagamaan mereka sangat sarat dengan nilai-nilai islam. Masyarakat Kauman memiliki karakteristik yang disandarkan kepada nilai agama, dalam hal ini Islam yang menjadi patokan utama dalam setiap perbuatan. Dalam kesehariannya juga mengacu kepada nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama Islam yang diyakini  sebagai satu-satunya agama yang dapat membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat serta ajaran dari Sunan Kudus yang menekankan pada prinsip toleransi dan berbuat baik terhadap sesama.

Nilai hidup inilah yang membedakan masyarakat Kauman dengan komunitas yang lain. Nilai hidup ini menjadikan masyarakat Kauman memiliki karakteristik tersendiri yakni kuatnya nilai agama dalam kehidupan. Nilai-nilai agama yang di yakini ini tidak berhenti pada tataran epistemologis saja, melainkan sampai pada tataran aksiologis yakni menjalankan apa yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Bagi masyarakat Kauman, hal terpenting dalam kehidupan adalah menjalankan sholat dan mengaji. Ada sebuah konsepsi yang berlaku di masyarakat yaitu masyarakat Kauman harus menjalani masa pendidikan di madrasah atau sekolah keagamaan. Berbeda seperti kaum abangan yang telah saya gambarkan sebelumnya. Walaupun pada masyarakat santri juga msih menjalankan ritual, seperti adanya buka luwur sunan kudus yang selalu di adakan pada tanggal 1 syuro yang dimaksudkan untuk menghormati sunan kudus sebagai tokoh penyebar agama islam di kota kudus, namun adat ritual ini dilakukan dalam unit besar. Dalam artian, bahwa ritual ini diakui oleh seluruh umat islam yang dengan kesadarannya sendiri untuk datang berbondong-bondong menyumbangkan materi maupun jasa secara sukarela demi kelancaran ritual tersebut. Hal ini tampak berbeda dengan kaum abangan, yang melakukan slametan dalam unit kecil, yakni unit rumah tangga saja. Berkumpulnya kaum santri ke dalam satu kelompok atau komunitas yang berlokasi di sekitar masjid menara kudus ini tampak sesuai dengan pandangan Geertz.

Melihat karakteristik priyayi yang dikemukakan oleh Gertz yang dsebutnya sebagai keturunan bangsawan, agaknya saya belum menemukan di desa tempat saya tinggal, karena mayoritas hanyalah terdiri dari masyarakat biasa, yang bekerja pada bidang-bidang swasta, termasuk juga para petani dan pedagang.

Berdasarkan hasil pengamtan secara keseluruhan, maka di simpulkan bahwa masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya, yakni di desa tanjungkarang kabupaten kudus mayoritas merupakan kaum abangan yang dibuktikan dengan masih adanya selametan-selametan dan kepercayaan-kepercayaan terhadap roh halus. Selain itu, ada pula masyarakat yang tergolong dalam kaum santri, namun jumlahnya hanya sedikit. Apabila dilihat secara luas lagi (lingkup kabupaten), keberadaan kaum santri ini mayoritas berkumpul di sekitar Menara Kudus.

Iklan

6 comments on “Analisis Abangan-Santri-Priyayi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s