Agama & Solidaritas Perspektif Emile Durkheim

AGAMA DAN SOLIDARITAS

RITUAL BUKA LUWUR SUNAN KUDUS

            Pedahuluan : Pendekatan Emile Durkheim

Pada dasarnya segala tindakan manusia di dasarkan oleh adanya motivasi atau dorongan-dorongan tertentu. Motivasi tidak hanya berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, namun juga berasal dari luar (ekstrinsik). Motivasi dari luar di pengaruhi oleh adanya pemikiran bahwa ada suatu zat yang memiliki kekuatan di luar batas kemampuan manusia. Motivasi dari luar (ekstrinsik) yang saya maksud di sini adalah adanya kepercayaan pada diri manusia tehadap keberadaan Tuhan, yang nantinya menimbulkan pengaruh-pengaruh spiritual yang berakibat pada pola perilaku individu maupun kelompok. Adanya pengaruh-pengaruh spiritual ini dapat menimbulkan dorongan-dorongan perilaku yang menghasilkan suatu bentuk ritual-ritual tertentu sebagai wujud dari kepercayaan masing-masing inividu maupun kelompok tersebut. Lahirnya ritual-ritual ini merupakan dorongan dari dalam diri manusia, yang dalam perkembangannya menjadi sebuah lembaga yang kemudian disebut dengan agama dan keyakinan.

Dalam hal ini, agama merupakan suatu system social, dimana di dalamnya terdapat komponen-komponen yang saling berhubungan, seperti halnya adanya system pengabdian, persembahan, serta peribadatan yang dilakukan secara ritual. Hal-hal tersebut tidak akan berjalan dengan semestinya jika tidak terdapat nilai dan norma yang mengatur. Dengan adanya norma, maka para pemeluk agama memiliki patokan dalam bertingkah laku maupun melaksanakan ritual-ritual tertentu. Norma yanag ada pada suatu agama tertentu ini berasal dari kitab suci maupun para tokoh agama. Dari sini dapat terlihat bahwa dalam bertingkah laku, manusia termotivasi oleh adanya norma-norma atau nilai yang ada pada suatu agama yang dianutnya.

Sedikit tulisan di atas, tampak sesuai dengan pendapat Emile Durkheim yang menekankan bahwa tanpa adanya masyarakat yang melahirkan dan membentuk semua itu, tidak aka ada satupun yang akan muncul dalam suatu kehidupan. Durkheim juga melihat bahwa agama merupakan sesuatu yang sarat moral, dimana masyarakat itu sendiri yang nantinya menilai apakah sesuatu itu bersifat sacral atau profane.

Dengan demikian, praktek agama yang terkait dengan dengan konsep penting dalam sosiologi Durkheim yakni cara bertindak, yang merupakan inti dari fakta social, termasuk didalamnya terdapat pula norma sebagai kaidah perilaku yang seharusnya dilakukan. Terkadang individu yang berada dalam suatu kelompok atau komunitas melakukan tindakan di luar kendalinya sendiri,dalam artian bahwa individu tersebut bertindak mengikuti arus kelompok yang secara tidak langsung mengudang dia untuk ikut serta melakukan suatu tindakan tertentu sehingga fakta social tersebut pada akhirnya dapat menguasai tingkah lakunya. Selain itu, Durkheim juga berpandngan bahwa agama memberikan makna dan tujan bagi kehidupan manusia, serta menyatukan orang dalam suatu komunitas moral seperti halnya telah tergambar pada ulasan di atas.

Dalam hal ini, kegiatan ritual merupakan suatu wujud dari pola perilaku yang terdorong oleh adanya norma agama yang dianutnya.Sebagai contoh yang saya ambil pada Tulisan ini yakni ritual “buka luwur” yang dilakukan oleh masyarakat Kudus sebagai wujud penghormatan kepada sunan kudus yang merupakan bagian dari walisongo, yakni para tokoh penyebar agama islam.

            Gambaran Mengenai Buka Luwur Sunan Kudus

      Ritual adat buka luwur adalah ritual tahunan yang dilaksanakan di Makam Sunan Kudus yang berlokasi di kompleks Masjid Al Aqsha Menara Kauman Kudus. Kegiatan ini berupa penggantian kain mori putih yang menyelubungi bangunan atau Makam Sunan Kudus. Ritual adat buka luwur ini dilaksanakan setiap bulan Asy Syuro tepatnya pada tanggal 10.

Ritual buka luwur dimulai dengan pembacaan do’a yang dilakukan di tajug atau pendopo yang terletak di kompleks Makam Sunan Kudus. Tajug ini berbentuk segi empat yang bermotifkan bangunan Jawa, model atap yang berundak-undak dengan empat tiang penyangga di tiap sisinya yang terbuat dari kayu jati sedangkan lantainya dari keramik yang diatasnya terhampar karpet bermotif masjid. Peserta ritual buka luwur duduk di seputar tajug dan mengelilingi luwur yang nantinya akan dipasang. Peserta ritual ini kesemuanya berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah antara 50-70 orang. Peserta ritual buka luwur adalah Ulama atau Kyai, tokoh masyarakat, Pemda, DPRD, Pengurus Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) dan tamu undangan lain.

Ritual adat buka luwur ini dipimpin oleh pemuka adat atau Ulama setempat. Para peserta mengikuti do’a yang dilantunkan oleh pemimpin upacara  beberapa saat setelah pemimpin upacara membaca do’a Asy Syuro kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah sebanyak satu kali, Al Ikhlas tiga kali, Al Falaq tiga kali, An Nas tiga kali, yang semuanya dibaca secara bersamaan oleh peserta ritual buka luwur. Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan ditutup dengan do’a yang sering dibaca oleh umat Islam dalam kesehariannya.

Luwur yang semula berada di tengah-tengah tajug kemudian diarak oleh peserta ritual buka luwur menuju makam Sunan Kudus yang berada di sisi utara tajug diiringi dengan lantunan sholawat. Hanya beberapa orang saja yang bisa masuk ke bagian utama Makam Sunan Kudus untuk memasang luwur di Makam dan Nisan Sunan Kudus, sementara peserta ritual lainnya berada di luar bagian utama makam Sunan Kudus. Setelah prosesi pemasangan selesai dilanjutkan dengan pembacaan do’a tahlil.

Upacara ritual buka luwur ini diakhiri dengan do’a yang dibacakan oleh Kyai yang paling senior di Kudus. Peserta mengamini setiap kali Kyai selesai membacakan do’a. Setelah do’a penutup dibacakan, para peserta ritual Buka luwur meninggalkan area makam Sunan Kudus. Kemudian selanjutnya, panita membagikan nasi beserta lauk daging kerbau maupun kambing yang di bungkus dengan daun jati kepada masyarakat.

Pembahasan : Makna Buka Luwur Dalam Membentuk Solidaritas

Buka luwur merupakan suatu bentuk ritual dimana para praktikannya akan merasa memiliki kepuasan batin setelah mengikutinya, terutama masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar menara kudus (masyarakat kauman), dimana pada masyarakat tersebut sangat sarat dengan nilai-nilai islam. Mayarakat kauman yang selalu bersandar pada nilai-nilai islam yang seakan sudah melekat dan mendarah daging, mereka melakukan suatu bentuk tindakan sebagai wujud pendekatan diri kepada Tuhan. Pada pembahasan yang dimaksud di sini adalah suatu tindakan dalam bentuk ritual, yakni ritual buka luwur sunan kudus yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sunan kudus yang merupakan salah satu tokoh penyebar agama islam. Ritual ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kauman, bahkan telah menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan. Ketika individu sudah bergabung pada kelompok masyarakat tersebut, dia akan tergerak untuk ikut andil dalam ritual. Akan ada perasaan tidak nyaman jika dia tidak menyertakan diri untuk ikut andil dalam ritual tersebut. Hal ini tampak bahwa individu yang ada dalam kelompok bertindak di luar kendalinya sendiri. Dia berindak mengikuti arus kelompok yang bekerja dalam dirinya sendiri.

Luwur yang merupakan hanya sebuah kain mori, dianggap memiliki makna mistis oleh masyarakat karena ada alunan doa dan berkah yang melekat di dalamnya. Sehingga nantinya luwur yang telah diganti tersebut mnjadi rebutan para warga. Tidak hanya itu, nasi yang dibungkus daun jati yang telah dipersiapkan panitia tak luput pula dari rebutan para warga karena diyakini akan mendatangkan berkah bagi yang memakannya.

Tampak bahwa ritual buka luwur ini melibatkan partisipasi banyak masyarakat dalam menyiapkan berbagai jenis keperluan ritual, seperti halnya kain mori serta nasi bungkus yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat kauman maupun masyarakat lain yang telah mengantri untk memperoleh nasi yang dibungks dengan daun jati tersebut. Segala keperluan ritual seperti halnya kain mori dan bahan-bahan yang nantinya dimasak untuk dibagikan kepada masyarakat merupakan sumbangan secara sukarela dari masyarakat itu sendiri.

Dalam ritual ini tampak adanya kebersamaan dan kegotongroyongan. Para masyarakat membaur menjadi satu untuk ikut serta mempersiapkan ritual ini. Mereka bersatu untuk mewujudkan kelancaran ritual. Dalam hal ini Tidak hanya masyarakat kauman saja yang ikut andil dalam ritual ini, masyarakat di luar kaumanpun, atau bahkan masyarakat dari luar kota Kudus berbondong-bondong secara suka rela untuk ikut menyumbangkan materi maupun jasa demi kelancaran ritual.

Dari sini terlihat bahwa ritual tersebut memiliki makna yang sangat sarat dengan keberamaan. Anggota masyaakat yang jauh berada dipersatukan oleh even agama untuk sekadar datang berziarah hingga ikut menyukseskan acara. Sehingga melalui ritual seperti ini tidak hanya dapat menimbulkan kepuasan batiniah, namun juga dapat mewujudkan solidarias social.

Iklan

5 comments on “Agama & Solidaritas Perspektif Emile Durkheim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s