Struktur Masyarakat Jawa

Pada dasarnya, struktur masyarakat Jawa terbagi dalam 4 masa, antara lain yakni feodalisme, kolonialisme, kemerdekaan, dan kekinian. Masing-masing bagian memiliki karakteristik berbeda yang membahas mengenai system masyarakat yang ada di dalamnya. Dalam hal ini, pada tulisan ini saya akan membahas mengenai struktur masyarakat Jawa yang ada di desa tempat tinggal saya, yakni Desa Tanjungkarang, Kabupaten Kudus.

Saya akan menganalisis masing-masing struktur masyarakat Jawa untuk kemudian akan saya gambarkan apakah struktur masyarakat tersebut masih ada sampai skarang atau sudah hilang, khususnya di desa Tanjungkarang Kabupaten Kudus.

FEODALISME.

Feodalisme merupakan suatu masa, dimana pada saat itu raja ditetapkan sebagai pemilik kekuasaan tertinggi, raja sebagai penguasa pemerintahan memiliki kedudukan yang sangat sentral dan menentukan terhadap kehidupan kerajaan serta masyarakatnya. Sedangkan para bangsawan keluarga raja dan para aparat birokrasi adalah anak buah raja yang dijadikan alat untuk memerintah rakyat. Dengan demikian, rakyat adalah penduduk kerajaan yang diperintah. Disini, raja menganggap tanah sebagai symbol otoritas. raja merupakan pemilik tanah dengan kekuasaanya yang mutlak. Para bangsawan dan aparat birokrasi memperoleh tanah dari raja sebagai tanah jabatan. Kemudian tanah-tanah tersebut diserahkan kepada rakyat (petani) sebagai pihak yang diperintah untuk menggarap tanah-tanah tersebut, dan nantinya mereka hanya menikmati bagian kecil dari hasil menggarap tanah atau sawah, yaitu 2/5 bagian.

Tampak bahwa lapisan atas di duduki oleh tuan tanah, sedangkan lapisan bawah di duduki oleh buruh. Lapisan bawah harus selalu tunduk kepada lapisan atas karena lapisan atas merupakan satu-satunya pemberi kehidupan bagi mereka. Selain itu, lapisan bawah harus selalu menuruti kehendak lapisan atas, sehingga dalam hal ini tidak terdapat adanya kebebasan dalam berpendapat. Yang paling berkuasalah yang mengatur segalanya. Dari segi politik, dia yang mempunyai lahan yang luas dan mempunyai harta kekayaan dialah yang berkuasa(bangsawan), tetapi ada juga yang secara turun – temurun berkuasa karena atas dasar  banyak pengikutnya dan dipercaya oleh para  pengikutnya (Raja).

Melihat karakeristik masa feodal seperti tersebut, agaknya pada masa kini sudah jarang kita jumpai. Namun, disini saya melihat bahwa dari system pertanahan yang telah tergambar  di atas, pada masa kini masih bisa saya jumpai. Saya melihat di lingkngan tempat tinggal saya, yakni di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus mengenai gaji kepala desa (lurah) yang diberikan dalam wujud tanah bengkok sebagai tanah jabatan. Tanah ini merupakan lahan pertanian yang di berikan kepada lurah untuk di olah dan diambil hasilnya. Biasanya tanah pertanian ini di olah dengan memakai jasa penggarap (buruh tani), kemudian buruh tani diberi upah atas kerjanya tersebut. Dilihat mengenai definisi dari tanah bengkok itu sendiri yang merupakan tanah petanian desa yang diperuntukkan bagi para pamong desa, tampak bahwa hal ini merupakan warisan dari system feodal pada masa dulu. Namun bedanya, pemilihan atau pengangkatan kepala desa (lurah) ini dilakukan melalui system demokrasi dalam pemilihan kepala desa (pilkades), bukan berdasarkan atas keturunan atau bahkan wewenang dari satu pihak yang mungkin di anggap sebagai penguasa.

KOLONIALISME

Masa ini bermula pada bertemunya bangsa Indonesia dan Belanda ketika Cornelis de Houtman melakukan ekspedisi dan  berlabuh di pantai utara Jawa guna mencari rempah rempah, dan berlanjut pada hubungan perdagangan diantara keduanya. Namun kemudian, Belanda melakukan imperialisme pada bidang ekonomi dan kebudayaan di Indonesia, serta memberlakukan politik Van de Venter yakni politik etis yang berarti pula bangsa penjajah berupaya menghilangkan jurang pemisah antara penjajah dengan bangsa terjajah dengan melenyapkan kebudayaan bangsa terjajah diganti dengan kebudayan penjajah.

Pada masa colonial, terdapat pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas social, antara lain yakni Eropa yang terdiri dari golongan para penjajah, yang cenderung memiliki kekuasaan tertinggi. Yang kedua adalah kelompok Timur Asing yang terdiri dari para pedagang dari bangsa Arab dan bangsa China, kelompok ini merupakan kelompok yang memiliki kekuasaan pertengahan. Dan yang paling terakhir adalah kelompok ketiga yaitu kelompok pribumi yaitu kelompok yang terdiri dari kalangan masyarakat asli Indonesia yang mayoritas merupakan sebagai budak.

Dalam hal ini, Status sosial bangsa Indonesia yang berada dibawah bangsa asing, baik kulit putih maupun timur asing memberi dampak pada stratifikasi sosial tradisional masyarakat Jawa. Adanya warna kulit yang menjadi ukuran status sosial menjadikan Bangsa Belanda posisinya di atas pribumi, termasuk raja. Meskipun raja dan keluarganya masih ditempatkan di atas bangsa timur asing. Ukuran warna kulit menjadikan bangsa Belanda yang golongan kecil tetapi memiliki hak istimewa ditempatkan di atas pribumi yang jumlahnya lebih besar. Misalnya, dalam pekerjaan bangsa Belanda pasti mendapat jabatan di atas pribumi yang harus diangkat berdasar keahlian.

Berdasarkan gambaran di atas, terlihat bahwa dalam masyarakat di bedakan ke dalam kelas-kelas social, di mana pada waktu itu kelompok pedagang di dominasi oleh bangsa arab dan China yang menempati pada posisi pertengahan. Untuk jaman sekarang, khususnya di DEsa Tanjungkarang Kabupaten Kudus, pembedaan social seperti tersebut sudah tidak ada. Pada masyarakat ini semua membaur menjadi satu tanpa membedakan asal usul mereka, baik keturunan Cina maupun Jawa semua hidup dalam kerukunan dan kebersamaan. Untuk bidang perdagangan, tidak hanya di pegang oleh keturunan Cina, tetapi Justru mayoritas di pegang oleh para masyarakat jawa asli.

Menganai pembedaan dalam warna kulit, agaknya pada jaman sekarang sudah tidak menjadi suatu hal yang begitu dipermasalahkan. Dalam hal ini pada masyarakat desa tanjungkarang, tidak pernah ada suatu permasalahan yang timbul akibat dari peredaan warna kulit antar masyarakat. Walaupun di desa ini terdapat pula masyarakat yang berkulit putih (keturunan Cina), hal tersebt tidak menjadikan suatu masalah. Namun, apabila kita mencoba mencermati lebih dalam lagi, pada jaman skarang masih terdapat sisa-sisa pandangan pada masa kolonialisme, dimana kulit putih dianggap lebih daripada kulit hitam. Pada bidang-bidang pekerjaan tertentu yang lebih menekankan pada fisik misalnya, dalam perekrutan karyawan lebih di utamakan kepada mereka yang berkulit putih, daripada berkulit sawo matang. Selain itu, di desa saya ini juga terdapat banyak salon kecantikan, dimana mereka menawarkan perawatan-perawatan untuk mememutihkan kulit & masyarakatpun banyak yang tertarik atas hal tersebut, mereka yang memiliki kulit sawo matang, seakan-akan berlomba untuk melakukan perawatan pemutihan kulit . Menurut saya, hal ini bisa dikatakan sebagai sisa-sisa warisan pada jaman kolonialisme, dimana kulit putih dianggap lebih, dan memiliki strata social atas.

Selain itu, dsini saya juga menemukan adanya system bangunan rumah (rumah adat kudus) yang terengaruh oleh kolonialisme Belanda, rumah ini terletak di  museum kretek Kudus. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, masing-masing bagian dalam rumah tersebut memiliki fungsi yang berkaitan dengan adanya pembedaan seperti pada jaman kolonialieme dulu, dimana terdapat pembedaan perlakuan dalam menerima tamu atau pembagian bagian rumah adat Kudus yang dipakai untuk menerima tamu berdasar status sosial. Di bagian rumah mana ia akan diterima, disesuaikan dengan ketinggian status sosial si tamu.

. Namun untuk jaman sekarang, bangunan rumah yang seperti tersebut sudah jarang ditemukan karena masyarakat lebih condong kepada model rumah yang modern, yang merupakan gabungan gaya bangunan barat.

KEMERDEKAAN – KEKINIAN

Pada masa ini, Indonesia sudah terlepas dari kaum penjajah. Tidak ada pihak yang dominan yang menjadi penguasa, dan tdak ada pula phiak minoritas yang terjajah. Hal- hal yang menimbulkan tajamnya stratifkasi social sudah mulai mengendur. Pendidikan sudah di sama ratakan, tidak diberlakukan adanya pembedaan-pembedaan baik itu dari golongan berkulit ptih maupun berkulit hitam, keturunan bangsa asli maupun capuran, dan lain sebagainya. Semua masyarakat memperoleh hak yang sama. Masyarakat berhak memperoleh status atau jabatan tinggi sesuai dengan keahlian masing masing pada bidang-bidang pekerjaan tertetu termasuk pula pada bidang politik. Sehingga dalam hal ini tampak bahwa pembedaan ke dalam kelompok-kelompok social yang begitu kolot seperti pada jaman dulu sudah mulai hilang.

Dalam hal ini, pada masyarakat di desa tempat saya tinggal, yakni desa tanjungkarang kabupaten kudus, mencerminan adanya karakteristik masyarakat yang sperti tersebut. Tidak terdapat adanya pembedaan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok social tertentu. Semua hidup rukun dan membaur menjadi satu tanpa memandang adanya asal- usul keturunan. Ketika ada hal-hal yang menjadi kepentingan orang banyak, misalnya membangun mushola, membangun gapura desa, dan lain sebagainya, dalam pelaksanaannya di lakukan dengan mengadakan rapat terlebih dahulu. Dalam rapat tersebut dihadiri oleh para perwakilan masyarakat yang biasanya dipimpin oleh ketua RT / ketua  RW / masyarakat yang memiliki jabatan di atasnya. Pngambilan keputusannya dilakukan secara demokratis, tidak berdasarkan atas keputusan sepihak atau keputusan dari masyarakat yang berstatus tinggi saja.

Dalam system kemasyarakatan mengenai status social, dalam masyarakat ini masih berada pada tataran yang wajar. Dalam artian, suatu penhormatan yang lebih, diberikan kepada seseorang yang di rasa  sudah sepantasnya di hormati. Msalnya, penghormatan yang diberikan golongan muda terhadap golongan tua dalam segi sopan santun, cara berbicara,dan lain sebagainya. Hal ini wajar karena pada dasarnya masyarakat jawa memang terbiasa dengan adat sopan santun atau unggah ungguh yang baik kepada yang lebih tua. Namun hal ini bukan berarti pula tidak adanya penghormatan pada seseorang yang semuran atau berumur lebih muda.

Pada masa sekarang, tidak seperti jaman dulu dimana menempatkan para petani dan kaum buruh pada strata yang paling bawah, disini pembedaan tersebut sudah tidak ada. Namun, Walaupun kenyataannya terdapat petani yang sukses, pandangan masyarakat secara mayoritas tetap menganggap bahwa bertani merupakan pekerjaan berat dengan hasil yang tidak sepadan. Hal ini wajar, karena pada masyarakat sudah tertanam konsep seperti pada jaman feodal dimana para petani hanya menikmati bagian kecil dari hasil menggarap tanah atau sawah milik para bangsawan, yakni sebanyak 2/5 bagian. Tampak bahwa para petani tidak menikmati hasil kerja keras  secara wajar atau adil. Sehingga, dalam hal ini masyarakat tetap menganggap bahwa bertani bukan merupakan suatu pekerjaan pilihan, dan masyarakatpun akhirnya berpandangan bahwa bekerja sebagai PNS merupakan suatu idaman. Dan hal ini memunculkan pemikiran bagi para orang tua di desa ini untuk mengarahkan anak-anaknya agar nantinya menjadi seorang PNS. Walaupun pada kenyataannya para orang tua tersebut juga memiliki lahan persawahan, mereka tidak mengharapkan anak-anaknya untuk ikut mengolah tanah tersebut.

 

Kesimpulan .

Dengan demikian, tampak bahwa pada jaman sekarang, terutama di dsa tempat tinggal saya, yakni desa tanjungkarang kecamatan jati kabupaten kudus, sudah berada pada masa kemerdekaan dan kekikinian, dimana sratifikasi social yang sangat tajam seperti halnya pada masa feodalisme dan kolonialisme sudah mulai hilang. Namun, seperi yang telah saya gambarkan sebelumnya, saya juga menemukan adaya warisan-warisan peninggalan jaman dulu yang masih tertinggal sampai sekarang. Sperti halnya system pertanahan (tanah begkok) yang diberikan kepada lurah sebagai gaji dalam masa jabatannya. Selain itu, masih saya temukan pula rumah adat kudus yang terletak di museum kretek, yang pada bagian-bagian bangunannya memiliki unsure adanya stratifikasi social pada masa colonial.

 

2 comments on “Struktur Masyarakat Jawa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s