Perubahan Sosial Budaya yang Ada di Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati, Kudus

 

NAMA           : ANGGRAENI MUNGGI LESTARI

NIM                : 3401409032

 

Perubahan Sosial Budaya yang Ada di Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati, Kudus

 

Apabila dibandingkan antara zaman dulu dengan zaman sekarang, perbedaan budaya memang terlihat begitu jelas.Hal ini semakin terlihat nyata setelah saya melakukan pengamatan terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal saya, yakni di Desa Tanjungkarang Kecamatan Jati Kabupaten Kudus. Seperti halnya di daerah-daerah atau kota-kota lain, tentunya dalam kehidupan masyarakat di desa ini juga   mengalami suatu perubahan sosial budaya. Dari pengamatan yang saya lakukan,  saya menemukan beberapa perubahan social budaya yang terjadi di masyarakat desa ini. Perubahan social budaya yang terjadi pada masyarakat desa Tanjung Karang ini meliputi beberapa aspek, antara lain dari aspek tingkah laku, gaya hidup, dan sebagainya.   Perubahan sosial budaya yang paling tampak pada masyarakat di desa ini adalah perubahan social budaya dalam segi tingkah laku, dan hal ini lebih mengarah pada kemunduran, artinya tingkah laku masyarakat semakin mengalami penyimpangan.

Perubahan budaya yang saya lihat dari segi tingkah laku misalnya berupa suatu perubahan tata kelakuan masyarakat yang semakin lama semakin mengarah pada kebebasan, terutama tingkah laku pada remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Dari pengamatan yang saya lakukan terhadap para remaja tersebut, pada era seperti sekarang ini peraulan mereka semakin bebas. Pergaulan antara remaja laki-laki dan perempuan tersebut lebih mengarah pada suatu pergaulan yang seakan-akan tidak mempunyai rasa malu. ‘tidak mempunyai rasa malu’ ini dalam artian, mereka tidak peduli akan masyarakat lain  di sekitarnya, mereka acuh terhadap nilai-nilai kesopanan yang ada, dan mereka menganggap bahwa tidak ada batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Pergaulan yang saya maksud di sini adalah pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang menurut saya sudah kelewat batas. Dari yang sudah saya amati dalam masyarakat, contoh dari pergaulan tersebut antara lain :

-          Gaya pacaran para remaja yang sekarang ini sudah tidak mempunyai rasa malu. Mereka saling bergandengan tangan, atau bahkan berciuman di tempat umum. Hal ini tentunya jelas melanggar norma-norma kesopanan yang ada dalam masyarakat. Apabila hal-hal seperti ini terus berlanjut, mungkin pada era yang akan datang pergaulan para remaja akan menjadi semakn bebas, atau bahkan freesex dianggap sebagai hal yang biasa bagi mereka.

-          Anak perempuan sudah mulai menganggap bahwa pergi keluar pada malam hari merupakan hal yang sudah biasa. Padahal pada jaman dulu, anak perempuan yang pergi keluar rumah pada malam hari merupakan hal yang dianggap tidak baik.

-          Banyak para remaja di desa ini yang tidak mempunyai sopan santun terhadap orang tua, terutama dalam hal bahasa ketika berbicara.

 

Contoh diatas merupakan gambaran perubahan social yang ada di masyarakat desa Tanjungkaang kecamatan Jati Kudus yang apabila dilihat dari segi tingkah laku memang banyak mengalami kemuduran. Apabila dibandingkan dengan keadaan budaya pada jaman dahulu, tentunya sangat berbeda. Dari segi tingkah laku masyarakat ( terutama yang saya amati adalah remaja) sangat jauh lebih baik pada jaman dahulu, dimana masyarakat masih memegang teguh nilai-nilai kesopanan yang ada.

Selain dari segi tingkah laku, apabila saya melihat dari segi berbusana pada masyarakat di desa ini juga sudah mulai mengalami perubahan social budaya yang lebih mengarah terhadap budaya luar, yang pada umumnya memakai busana yang lebih terbuka. Hal ini mungkin tidak hanya terjadi pada masyarakat yang ada di desa tanjungkarang, namun juga terjadi di daerah-daerah lain karena memang budaya luar sangat berperan terhadap terjadinya perubahan social pada masyarakat. Apalagi ditambah adanya factor dari dalam diri masyaraat itu sendiri yang pada umumnya masih memiliki pola pikir yang sempit sehingga budaya luar yang bersifat negative dapat dengan mudah menerobos budaya Indonesia tanpa bisa memilah mana budaya-budaya luar yang pantas diterima dan mana budaya-budaya luar yang harus ditolak dalam budaya Indonesia.

Bentuk-bentuk hiburan yang jaman dahulu berupa kesenian-kesenian daerah juga sudah mulai menghilang. Hiburan masyarakat yang jaman dahulu pada umumnya berupa kesenian-kesenian daerah mulai kalah saing dengan adanya beraneka ragam bentuk hiburan baru yang lebih menarik perhatian masyarakat. Hiburan-hiburan yang saat ini banyak menarik perhatian masyarakat di desa Tanjungkarang terutama para anak-anak maupun remaja adalah play station. Para anak-anak maupun remaja di desa ini mulai tertarik dengan permainan play station dan sejenisnya, sehingga hiburan-hiburan yang masih bersifat tradisional sudah mulai meenghilang, bahkan banyak anak-anak di desa ini yang tidak tahu akan adanya permainan-permainan tradisional yang pernah ada. Jadi, dengan adanya bentuk-bentuk hiburan modern yang lebih menarik perhatian para masyarakat tersebut, lama-kelamaan dapat menggeser posisi hiburan-hiburan tradisional, yang pada umumnya berupa kesenian-kesenian daerah, atau bahkan pada saat ini kesenian-kesenian daerah itu sudah tidak dikenal oleh anak-anak yang ada di desa ini. Namun, di sisi lain dengan adanya hiburan-hiburan modern seperti televisi, radio, dan sebagainya, dapat menambah pengetahuan masyarakat, karena dengan adanya hiburan-hiburan elektronik tersebut, mereka dapat mengetahui informasi-informasi yang ada di dunia luar. Sehingga masyarakat bisa menambah pengetahuan mereka dan dapat mengikuti adanya perkembangan jaman (dalam segi positif).

Apabila dilihat perubahan pada segi adat istiadat, di desa ini tidak mengalami perubahan yang begitu tampak. Masyarakat di desa ini masih memegang teguh  atau melakukan adat istiadat yang sudah ada. Adat istiadat tersebut antara lain adalah mengadakan slametan baik ketika ada kelahiran bayi, pernikahan, membangun rumah, atau bahkan ketika membeli kendaraan baru. Dalam segi adat istiadat ini, masyarakat di desa Tanjung Karang memang masih menjaganya dengan baik. Jadi, perubahan dalam aspek adat istiadat yang ada di desa ini tidak terlalu tampak, karena pada umumnya mereka masih melaksanakan semua adat istiadat dengan baik.

Apabila diamati dari aspek kependudukan, masyarakat di desa ini sudah tidak memegang adanya semboyan ‘banyak anak banyak rejeki’. Mungkin, pada jaman dahulu semboyan ini memang diterapkan dalam setiap keluarga. Namun, seiring dengan berkembangnya jaman masyarakat sudah mulai menghilangkan semboyan tersebut karena justru apabila mengikuti semboyan tersebut masyarakat akan menjadi repot karena memiliki banyak anak. Sehingga, saat ini masyarakat di desa Tanjung Karang sudah melakukan program KB, dan mayoritas dalam keluarga mereka maksimal memiliki tiga anak.

Gambaran-gambaran yang saya jelaskan diatas merupakan hasil dari pengamatan yang saya lakukan di tempat tinggal saya, yakni desa Tanjung Karang Kecamatan Jati Kudus dari segi perubahan-perubahan social budaya yang terjadi.

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s